Suasana pun semakin panas, emosi Devaya kian tak terkendali, kemudian si abang tukang becak pun turun mendekati.

"Lo nantangin gue?" Kata si abang becak.

"Banyak bacot lo" Ucap Devaya sambil menarik kerah baju orang yang berada tepat dihadapannya. Kemudian

~Jiatttttdth... Brug~
"Aaaaaaaaaaaaaaaa. Sakit" Teriak si abang becak.

Devaya menonjok wajah si abang becak dengan pukulan yang sangat keras hingga mulutnya robek Berguling-guling dan bercucuran darah.

"Rasakan ini tjoeg"

~Jiatttdh Jiatttdh Dis euuuuuuuu. Jiatttdh~

Si abang tukang becak pun hanya bisa pasrah tak mampu melawan, hingga akhirnya beliau menyerah dan menuruti keinginan devaya, untuk mempertanggungjawabkan perbuatnya.

Dua jam berlalu, Devaya dan si abang tukang becak pun sedang OTW menuju rumah sakit. Devaya berlari-lari dan tibalah doi didepan pintu kamar tempat dimana Kamvret dirawat inap.

"Reh? Gimana kondisi kamvret?" Tanya Devaya dengan nafas Ngos-ngosan kepada seseorang yang sedang duduk dibangku depan kamar rawat inap kamvret. Terlihat didalam ada seorang dokter yang masih memeriksa keadaan kamvret.

"Dokter masih memeriksanya ya, kita berdo'a saja, semoga kamvret diberi kekuatan, Aamin" Ucap orang tersebut.

"Teh, saya lapar?" Celetuk si abang tukang becak disampingnya.

"Sama, gue gue juga lapar." Lanjut Devaya.

"Ya udah kalian tunggu dulu disini, biar gue beli makanan!"

"Oke Reh, thanks ya, lo udah jagain temen gue."

"Iya ya." Kata Rehe sambil bergegas pergi keluar untuk membeli makanan.

"Sambelnya banyakin Reh."Teriak Devaya.

"Siapp." Lanjut Rehe.

Kemudian setelah itu dokter pun keluar membuka pintu.

"Gimana keadaan teman saya dok? Bolehkah saya masuk?" Tanya Devaya.

"Mohon bersabar, ini ujian." Ucap Dokter tersebut.

"Untuk saat ini kondisi teman anda sedang kritis dan tidak bisa diganggu, beliau perlu istirahat yang banyak, kita do'a kan saja semoga beliau diberi kekuatan, Aamin. Oh ya? BTW keluarganya dimana ya?" Lanjut Dokter.

"Beliau disini sendirian dok, keluarganya jauh di bangladesh sana dok."

"What? Terus siapa yang akan menanggung biaya perawatan ini?" Tanya Dokter dengan nada yang sedikit sinis.

"Tenang saja dok, semua biayaya perawatan saya tanggung sampai beliau sembuh dok."

"Oh. Ya udah atuh saya mau pergi dulu, kalau ada apa-apa hubungi saja suster di bawah ya."

"Oh. Oke Dok." Kata Devaya.

Dokter pun pergi menginggalkan mereka berdua (Devaya dan si abang tukang becak).

Nampak terlihat wajah Devaya bersedih dengan mata yang berkaca-kaca, Doi tak kuasa ketika melihat teman dekatnya itu terbaring kritis tak berdaya.

"Ya allah sembuhkanlah Kamvret, aku berlindung kepadamu ya allah." Ucap Devaya dalam hati, doi berdo'a.

d3.jpg



doi tak mampu membendung rasa sedihnya, doi pun meneteskan air matanya."

Sementara itu si abang tukang becak disampingnya malah asyik sendiri mainin handphone sambil ketawa-tawa.

"Berisik Goblog." Ucap Devaya ke si abang tukang becak sambil menatap tajam kedua matanya.

"Ma, maaf teh." Kata si abang tukang becak sambil menundukan kepalanya.

Kemudian handphone si abang becak itu berbunyi.

"Trililililit. Assalamualaikum? Iya halow mah?" Kata si abang becak di telepon.

"APAHHHH?" Si abang tukang becak sontak terkaget, entah ada apa. Devaya pun keheranan melihatnya.

"Iya mah iya. Waalaikumsalam." Lanjut si abang tukang becak sambil panik lalu mematikan handphone nya.

"Ada apa?." Tanya Devaya.

Kemudian....

-BERSAMBUNG-



Gambar orang lagi berdoa di postingan Devaya Episode 3 (Novel Online) Di atas di ambil dari google. Terimakasih.



Catatan : Apabila anda ingin menyalin, mengkopi paste artikel atau cerita diatas, sertakan sumber, nama penulis, dan link aktif menuju blog ini. Sungguh sangat dilarang mengubah kata-kata artikel atau cerita diatas tanpa seijin penulis.