devayaepisode4.png


"APAHHHH?" Si abang tukang becak sontak terkaget, entah ada apa. Devaya pun keheranan melihatnya.

"Iya mah iya. Waalaikumsalam." Lanjut si abang tukang becak sambil panik lalu mematikan handphone nya.

"Ada apa?." Tanya Devaya.

Kemudian si abang becak menjawab

"Barusan istri saya nelepon teh dan katanya.."

"HAH? Kamu sudah nikah?" Devaya memotong penjelasan si abang becak, doi terkaget mendengarnya.

"Iya teh , saya sudah punya anak, anak saya baru berumur 4 bulan dan katanya, anak saya sekarang lagi sakit panas."

"APAHH? Terus ngapain lo masih disini, mendingan lo cepat pulang sana, kasihan anak lo."

"Tapi teh bagaimana dengan teman teteh, kan kata teteh saya harus bertanggung jawab?"

"Udah lah bang anak lo lebih penting, mendingan sekarang lo cepat pergi dari sini. Nih catet nomor gue! Entar lo hubungin gue oke!." Ucap Devaya.

"Baiklah teh, kalau begitu permisi atuh saya mau pulang dulu.".

"Ya"

Dan si abang tukang becak pun pergi pulang untuk menemui anaknya yang sedang mengalami sakit panas.



Siang pun belalu, berganti malam yang dingin syahdu gelap dan sepi, 23:00 waktu setempat. Devaya dan Rehe terlihat masih setia sabar menjaga Kamvret, dan Kamvret masih belum sadar sadar juga, beliau masih terbaring resah menahan sakit yang dideritanya.

"Ya mending lo pulang, biar gue aja yang jagain Kamvret"

"Tapi Reh?" Ucap Devaya yang sedang bersedih.

Kemudian setelah itu datanglah dua orang memakai jubah hitam menghampiri mereka.

"Aya? Rehe? Gimana sekarang keaadaan kamvret?" Tanya orang tersebut secara bersamaan.

"Pak Pedut? Pak Odo? Kirain siapa." Ucap Devaya.

"Kamvret masih belum sadar sadar juga pak." Lanjut Rehe.

"Kalau begitu, mendingan kalian sekarang pulang, besok sekolah, sudah, biar pak pedut dan pak odo saja yang jagain Kampret disini." Ucap Pak Odo.

"Tapi pak?" Depaya mengelak.

"Jangan ada tapi tapian cepat pulang sekarang."

"Baik pak." Ucap Devaya sambil menundukan kepalanya.

"Ayo Reh!

kami pulang dulu pak, assalamualaikum." Lanjutnya.

Devaya dan Rehe pun pulang menuju ke rumahnya masing-masing
Dikarenakan sudah terlalu malam dan angkutan umum sudah tidak ada. Rehe pun ikut dibonceng oleh Devaya, kebetulan memang jalan arah pulang kerumah mereka arah nya sama.

00:00 waktu setempat. Devaya telah tiba dirumah, Dengan Mengendap-ngendap Doi mencoba membuka pintu rumahnya.

~Reuketttttttttttttt~

Devaya terkaget ternyata pintu rumahnya tidak dikunci, bagaimana kalau maling masuk ya, hemzzzz asa kalah beuki teu puguh anjis ieu carita, nyeahhhh paduli ketang ah.

"AYA? Dari mana aja kamu? Jam segini baru pulang heh?"

O EM JI ;( OMG maksudnya, salah nulis, sory typo
Seketika Devaya terkejut mendengar bokapnya berteriak bertanya kepadanya.

"Aya habis dari rumah sakit yah, temen aya sakit."

"Halah alesan kamu." Ucap bokapnya.

"Jam segini baru pulang, mau jadi apa kamu heuh? Bapak sama mamahmu khawatir AYA." Lanjut bokapnya.

"Mamah mana pah? Mamah udah tidur?" Tanya Devaya kepada bokapnya.

"Mamah nggak pulang, mamah dikantor mamah lagi lembur." Ucap bokapnya yang masih marah-marah.

"Selalu saja begitu." Ucap Devaya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Apa maksud kamu?" Teriak bokapnya.

"Mana waktu buat AYA pah? setiap hari pergi pagi pulang pagi, Aya kesepian dirumah pah." Devaya menangis.

"Arrrrrgggghhhhhhhhh AYA pusing pah aya mau istirahat." Lanjut Devaya sambil berlari menuju kamarnya.

"AYA?" Teriak bokapnya, beliau kesal melihat sikap anaknya yang berubah.

-BERSAMBUNG-



Catatan : Apabila anda ingin menyalin, mengkopi paste artikel atau cerita diatas, sertakan sumber, nama penulis, dan link aktif menuju blog ini. Sungguh sangat dilarang mengubah kata-kata artikel atau cerita diatas tanpa seijin penulis.