• Karya : Rehe Silent / Mang Rehe
  • Dalam : Novel Online
  • Genre : bahagia, seru
  • menakutkan, fantastis, romantic, sedih, horror dan nggak jelas


    gales-otnap.jpg


    Alkisah ditengah hujan badai dimalam hari, dimalam yang sangat dingin, gelap dan sepi keluarlah seorang anak bayi berparas jamban. Eh tampan maksudnya! :(

    Anak bayi tersebut keluar dari dalam perut seorang wanita paruh baya bernama Ibu Tuec Nueh.
    Di sebuah desa terpencil yang jauh dari gemerlap kehidupan ramainya kota.

    Tepat pada pukul 12:00 kamis malam, Bapak Tunyak dan Ibu Tuec Neuh menampakan wajah-wajah kebahagian menyambut kelahiran anak mereka yang pertama. senyum-senyum haru dan manja, mata-mata bersinar berkaca-kaca terlihat jelas diraut wajah mereka berdua.

    "eaaaaaa, eaaaaaa." Teriak si bayi yang masih kecil dan lucu itu. .

    "Allhamdulilah, proses persalinan berjalan dengan mulus dan lancar. Selamat ya bu, pak yang saya hormati, anaknya laki-laki, barusan sudah di adzankan oleh suami ibu. Sekali lagi selamat untuk ibu dan bapak." Ujar si Ibu Paraji yang sukses mengomando proses persalinan bu Tuec Neuh.

    Ibu Paraji adalah satu-satunya dokter atau dukun beranak yang masih eksis di desa Podol Entog, desa terpencil yang tertinggal, yang berada di tengah hutan amazon. Desa yang tidak menyediakan fasilitas puskesmas/rumah sakit, lapang futsal, cape, bioskop, alun-alun, studio rental musik dan plaza untuk berbelanja ria bersama.

    "Alhamdulilah, terimakasih banyak ibu paraji yang saya hormati juga. Boleh saya melihat anak saya sekarang bu?." Ucap Ibu Tuec Neuh yang masih terkapar lemas terbujur kaku di springbed persalinan milik Ibu Paraji.
    "Iya sama-sama bu, mohon tunggu sebentar." Jawab Ibu Paraji.
    Dua detik kemudian.

    "Anaknya lucu banget bu!." Lanjut Ibu Paraji kepada bu Tuec Nueh sambil memperlihatkan bayinya.
    Ibu Tuec Nueh pun nampak bergembira sekali saat melihat bayi pertamanya yang sangat lucu dan menggemaskan itu.

    "Bapak bapak anak kita laki-laki pak! Ih anak kita lucu banget ya!." Kata Ibu Tuec Nueh kepada suaminya."
    "Iya bu lucu banget anak kita, laki-laki lagi, akhirnya kita punya anak juga ya bu.
    ~Nang ning ning nang eu. Nang ning ning nang eu.
    Ciloooooooooooook BAAAAAAAAA. uuuuu lucu banget jagoan ayah. Ciloooooooooooook BAAAAAAAAA." Ucap pak Tunyak sambil bernyanyi-nyani bahagia atas kelahiran anak pertamnya.
    "Nang ning ning nang eu, nang ning ning nang eu. Eh eh eh bu anak kita, kita kasih nama apa ya enaknya?." Tanya pak Tunyak kepada sang istri tercintanya.
    "Apa ya? Nama yang cocok buat anak kita, mungkin bapak lebih tahu?." Jawab bu Tuec Nueh.
    "A haa~ bu bu bagaimana kalau anak kita, kita beri nama Gales Otnap aja, gimana bu?." Ucap pak Tunyak sambil berjingkarak jingkrak aha aha.
    "Bagus tuh, udah itu aja deh." Kata bu Tuec Nueh.
    "Okelah kalau begitu istriku yang tercinta, fix. Welcome to the world Gales Otnap.

    2 jam kemudian tibalah mereka di rumah kediamannya sendiri. Ibu Tuec Nueh dan pak Tunyak memutuskan untuk pulang pada malam itu langsung. Meskipun hujan badai belum reda dan keadaan Ibu Tuec Nueh masih belum sehat maksimal dan stabil, tapi apa daya Karena kalau menginap di rumah Ibu Paraji mereka harus mengeluarkan biaya sebesar sepuluh juta rupiah dan memberi bensin sebanyak 20 liter kepada motor jet kul tiga roda kekinian milik Ibu Paraji.

    Sungguh sangat mengharukan, Ibu Tuec Nueh dan pak Tunyak bersama bayi pertamanya itu pulang jalan kaki dari rumah Ibu Paraji menuju rumahnya, bukan tidak ada kendaraan tapi memang karena duit untuk ongkos dan beli bensin sudah ludes di berikan kepada Ibu Paraji sebagai biaya persalinan.

    3 jam kemudian malam pun berlalu dan Hujan badai pun akhirnya berhenti, suara burung-burung dan badak liar mulai bernyanyi-nyanyi menyambut hari berganti.
    Pagi ini matahari bersinar seperti tanpa memperlihatkan bodynya guys! Karena kabut tebal bersama rintik-rintik kecil air hujan sisa badai semalam masih menyelimutinya.

    Desa Podol Entog adalah desa yang masih asri dan alami, desa yang dihiasi ladang pesawahan, perkebunan teh, kebun jagung, sayuran, pohon pines dan kelapa sawit.
    99% masyarakat desa Podol Entog berpropesi sebagai petani, begitu pula dengan orang tuanya Gales Otnap.
    Ketika pagi datang Bapak Tunyak selalu siap siaga untuk bertani ke kebun miliknya.
    Sementara Ibu Tuec Nueh sendiri harus bersiap-siap pergi ke pasar untuk berjualan hasil panen dari kebunnya tersebut.

    - BERSAMBUNG -



    Catatan : Apabila anda ingin menyalin, mengkopi paste artikel atau cerita diatas, sertakan sumber, nama penulis, dan link aktif menuju blog ini. Sungguh sangat dilarang mengubah kata-kata artikel atau cerita diatas tanpa seijin penulis.