Pintu di hadapan beliau dobrak begitu saja, hingga melesat, rusak, hancur berkeping-keping.

"Istriku." Kata pak Tunyak sambil merengkuh tubuh istrinya yang sedang menangis terpuruk berguling-guling di lantai.
"Bapak, gales hilang pak." Ucap bu Tuec Nueh dengan napas yang begitu berat.
"APA? Kenapa bisa hilang kenapa. GALEEEEEEEEES."
"Aku tidak tahu pak. tadi ada yang mengetuk-ngetuk pintu, terus pas aku buka, diluar nggak ada siapa-siapa, dan pas aku kembali ke dalam, gales sudah tidak ada di kasur pak." Ucap Ibu Tuec Nueh mencoba menjelaskan kepada suaminya dengan napas yang semakin berat.

Wajah pak Tunyak pun nampak sangat bersedih, tak lama kemudian beliau menangis tersendu-sendu. Beliau tak mampu membendung air matanya.
"TIDAKKKKKKKK KKKKKKKKKKKK." Teriak pak Tunyak yang sangat bersedih meratapi anak bayinya yang hilang.
Tiba-tiba disaat pak Tunyak dan bu Tuec Nueh sedang meratapi kesedihannya, seekor tikus berkaki 4 datang menghampiri mereka, seekor tikus tersebut terlihat membawa selembar kertas.
"Tikus macam apa ini?." Kata pak Tunyak sambil mengambil kertas tersebut.
"Itu kertas apaan pak?." Tanya bu Teuc Nueh sambil mengusap air matanya.
"Ini kertas HVS bu."
"Maksudku isi kertas itu apaan pak."
"Surat kayaknya bu."
"Sini biar ibu yang bacakan." Kata bu Tuec Nueh sambil mengambil kertas tersebut lalu membacakannya.

Teruntuk Bapak Tunyak dan Ibu Tuec Nueh yang saya hormati.
To the poin aja ya biar cepat.
Jadi anak ibu dan bapak terpaksa saya culik. Jangan khawatir karena nanti jika anak ibu dan bapak sudah dewasa, anak ibu dan bapak akan kembali lagi kepada kalian dengan sendirinya. Saya sudah sejak lama menunggu saat-saat seperti ini, saya adalah seorang bangsawan, saya sangat membutuhkan kekuatan yang dimiliki oleh anak ibu dan bapak ini, mungkin ibu dan bapak belum mengetahuinya, tapi saya sudah menunggu saat-saat ini sedari dulu. Saya tidak akan menyakiti anak ibu dan bapak, justru saya akan merawat dan menjaga anak ini dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Bahkan bila perlu, anak ibu dan bapak ini akan saya sekolahkan dia sampai ke negri cina.
TerimakasihTertanda
Analac Keos

"BRENGSEK KAU ANALAC KEOS." Kata pak Tunyak sambil membanting keras kursi yang berada disebelah sisi kirinya ke lantai.
"HUAAAAAAAAAH." Lanjut pak Tunyak. Beliau mengamuk tak terkendali, lalu beliau mengambil kertas di tangan istrinya itu kemudian beliau merobek-robeknya sambil berteriak-teriak.
"AAAAAAAAAAA ANALAC KEOS BANGSAT KAU.
AAAAAAAAAAA ANALAC KEOS BAJINGAN KAU. AAAAAAAAAA." Teriak pak Tunyak sambil bercucuran air mata.
Kemudian

"Wahai bapak yang ganteng baik hati dan tidak sombong kau suamiku tercinta sudahlah, ikhlaskan saja gales anak kita, biarkan dia disana bersama bangsawan bernama analac keos itu, kita do'a kan saja semoga apa yang di katakan dalam surat si bangsawan analac keos itu benar dan nyata adanya, dan semoga kela gales kembali lagi berkumpul bersama kita." Ucap bu Tuec Nueh, sambil mengusap air matanya, beliau mencoba untuk tetap tegar, sembari memeluk tubuh sang suaminya.
"Tidak istriku. Aku harus mencari gales, aku akan mencari tahu dimana si bangsawan analac keos itu berada. Aku sangat menyayangi gales anak kita dan aku harus membawa gales kembali ke rumah ini istriku."
"Kau mau cari dia kemana?." Tanya bu Tuec Nueh kepada suaminya.
"Raja ampat." Jawab pak Tunyak.
Kemudian
"Sudahlah pak, bapak itu sudah tua ronta, berat pak, bapak tidak, tidak akan kuat, biar ibu saja."
"Maksud kau apa istriku tercinta?."
"Ah sudahlah pak, ikhlaskan saja, lagian ibu merasa gales lebih aman disana pak, biarkan dia tumbuh disana. Kita do'a kan saja, semoga yang dikatakan dalam isi surat si bangsawan bernama analac keos itu benar dan nyata adanya pak."
"Tapi istriku, aku tidak suka dengan cara dia yang seperti itu, mencuri anak kita."
"Iya suamiku aku juga demikian, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi." Ucap bu Tuec Nueh.

Tiba-tiba segerombolan para tetangga-tetangga pak Tunyak dan bu Tuec Nueh sedesa Podol Entog datang berhamburan berlalri-lari menghampiri menuju rumah kediaman mereka sambil berteriak-teriak.
"PAK TUNYAK BU TUEC NUEH, PAK TUNYAK BU TUEC NUEH, PAK TUNYAK BU TUEC NUEH, PAK TUNYAK BU TUEC NUEH APA YANG TERJADI?." Teriak orang-orang tersebut.
Lalu
"Ibu-ibu bapak-bapak dan semuanya yang ada disini, mohon untuk jangan berisik ya. Kami sedang terpuruk, bayi kami Gales di curi bangsawan bernama analac keos." Ucap pak Tunyak mencoba untuk tetap kuat dan tegar.
"APA?" Teriak orang-orang tersebut terkaget dengan serentak.
"Iya bapak-bapak ibu-ibu adek-adek kakek-kakek dan nenek-nenek dan semuanya yang ada disini yang saya hormati."

- BERSAMBUNG -



Catatan : Apabila anda ingin menyalin, mengkopi paste artikel atau cerita diatas, sertakan sumber, nama penulis, dan link aktif menuju blog ini. Sungguh sangat dilarang mengubah kata-kata artikel atau cerita diatas tanpa seijin penulis.